 |
| KH. Marsudi Syuhud sedang memberikan tausiyah kepada jamaah |
Lantai dasar gedung Pesantren Ekonomi Darul Uchwah yang berlokasi di
Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, bergemuruh. Sabtu (4/4)
malam sekitar 150 orang jamaah melantunkan zikir, istighotsah, manaqib,
dan Maulid Rasulullah SAW. Ketika pembacaan maulid memasuki bagian
mahallul qiyam, mereka berdiri serentak sambil melantunkan kalimat "Ya
Nabi salam a’laika ya Rasul salam a’laika". Tetabuhan hadrah membuat
suasana semakin bersemangat.
Majelis tersebut rutin digelar
setiap Sabtu malam pada pekan pertama bulan. Malam itu, tak hanya santri
Pesantren Ekonomi yang hadir. Sejumlah pengusaha dari berbagai latar
belakang dan sebuah yayasan keilmuan dari Malaysia ikut meramaikan
perkumpulan.
Keislaman dan wirausaha pada malam itu terasa
lebur menjadi satu. Hal ini sejalan dengan cita-cita pendiri pesantren.
Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Marsudi Syuhud mengatakan bahwa
pendiri pesantren ingin agar umat Islam memiliki keunggulan ekonomi.
Sebab, saat ini mayoritas penduduk miskin di Indonesia ialah kaum
Muslim.
Standar negara maju, kata Marsudi, memiliki wirausaha
sedikitnya tujuh persen dari total seluruh jumlah penduduk. Singapura,
negara jiran kita, sudah memenuhi standar itu. Sedangkan Indonesia,
Marsudi menambahkan, jumlah wirausahawan baru mencapai 1,6 persen.
"Pesantren ini bercita-cita mencetak pengusaha," ujar Marsudi kepada
Republika.
Islam mengajarkan tangan di atas lebih baik daripada
tangan di bawah. Artinya, orang yang memberi lebih baik daripada orang
yang meminta. Marsudi mengatakan bahwa pesantren ingin membentuk santri
berjiwa pembayar zakat dan pemberi sedekah. "Islam mengajarkan untuk
membayar zakat bukan mencari zakat. Memberi sedekah bukan mencari
sedekah," kata Marsudi.
Rasulullah SAW ialah teladan terbaik
dalam urusan bisnis. Rasulullah SAW telah memulai bisnis dagang sejak
usia belia. Sehingga sudah seyogianya jika umat Islam mengembangkan diri
melalui wirausaha sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Marsudi mengatakan bahwa Pesantren Ekonomi Darul Uchwah tengah
mengembangkan usaha reksa dana yang dinamai House of Brotherhood Fund.
Upaya menggalang dana investasi tersebut kini sedang dalam tahap
pengurusan berkas dan secepatnya akan diluncurkan. Marsudi berharap
upaya tersebut bisa menjadi lapangan nyata untuk para santri karena bisa
bertemu dengan profesional yang menyuntikkan dana.
Dengan
visi ekonomi yang mantap bukan berarti santri kehilangan sentuhan
pesantren. Kegiatan pesantren pada umumnya tetap menjadi kurikulum
dasar. Majelis zikir dan maulid pun digelar selayaknya tradisi
pesantren.
Syarif, salah seorang santri asal Wonosobo, mengaku
awalnya sempat keteteran mengikuti pelajaran ilmu ekonomi di pesantren.
Syarif yang dulunya merupakan alumnus SMK jurusan mesin tidak terlalu
mengetahui ilmu tersebut. Akan tetapi, lama kelamaan ia mulai merasa
terbiasa dan menemukan celah untuk mengawinkan dua keahliannya itu.
"Saat ini, ya senang karena bisa kuliah sekaligus jadi santri juga,"
ujar Syarif yang merupakan mahasiswa di Sekolah Tinggi Agama Islam
Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta. Bahkan, Syarif mendapat beasiswa untuk
mengenyam pendidikan perbankan syariah sekaligus mempelajari
kitab-kitab dari pesantren yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Pada perkumpulan malam itu pesantren juga mendapat kehormatan menerima
kunjungan dari Yayasan Pengurusan Ilmu Malaysia. Direktur Yayasan Umar
Azmun menyerahkan sejumlah buku tentang isu-isu muamalah kepada
pesantren. Umar berharap pesantren bisa memberi pencerahan tentang tata
cara menjalankan aktivitas ekonomi secara Islami. "Ekonomi saat ini
banyak menghalalkan riba. Santri-santri saya harap bisa mengkritik
betul-betul soal ini," katanya. n c71
ed: m akbar wijaya
Sumber : Republika Koran