ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Pawai Budaya bersama Monas Jakarta

Kemeriahan haflah akhirussanah Pesantren Ekonomi Darul Uchwah berlanjut. Kali ini pawai budaya dilaksanakan pagi tadi pukul 07.00 dengan antusias warga.

Pawai budaya dibuka langsung oleh KH. marsudi Syuhud dengan iringan bendara bercorak hijau (NU) yang berkibar disetiap jalan. Pawai yang dimulai dari halaman pesantren itu diikuti oleh peserta dari beberapa kalangan santri se Jakarta Barat.

"Pawai budaya ini memang diselenggarakan untuk menghibur masyarakat sekitar pesantren, dimana perayaan besar ini agar warga masyarakat bisa berkumpul dan bersatu padu dalam keragaman menciptakan kerukunan dan perdamaian", Ujar lurah Pesantren Akhmad Nurul Huda.

Monas serta ikon Jakarta lainnya tidak kalah andil dalam menyemarakan pawai ini, bahkan tank hasil kreasi santri membuat warga yang melihat terkagum.

Sepanjang jalan tidak hentinya peserta pawai melantunkan sholawat kepada nabi yang menambah kemeriahan acara. Pawai ini berlangsung semarak dengan rute hingga daerah sunrice Jakarta Barat.

Muhdy

Pesantren Ekonomi Darul Uchwah gelar Lomba MDT se Jakarta Barat

Jakarta, 27 Mei 2016

Kemeriahan Haflah Akhirussanah dimulai sore ini, peserta lomba berantusias datang sejak pagi. Acara yang digelar Pesantren Ekonomi Darul Uchwah yang beralamat di Jalan kedoya duri Raya Jakarta Barat ini dihadiri lebih dari 500 peserta dari Madarasah Diniyah (MDT) se Jakarta Barat.

Lomba yang digelar berupa lomba mewarnai, fashion show, hafalan surat pendek, hafalan do'a serta masih banyak perlombaan yang lain.

"Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan haflah akhirusanah yang sebelumnya ada ziaroh wali Jawa Barat". Ujar Rohmat Ketua Panitia.

Kegiatan berikutnya akan dilaksankan pawai budaya pada pukul 09.00 pagi. "Ini merupakan bentuk syiar Pesantren kepada masyarakat serta berta'aruf". Ujar Rohmat

Acara direncanakan selesai hingga sore hari ditutup do'a oleh ibu Nyai Mufidzah yang merupakan pengasuh pesantren putri.

Muhdy

Pesantren Pencetak Generasi Pembayar Zakat



Dalam era saat ini, Semangat keislaman dan wirausaha harus bersinergi untuk menciptakan kondisi umat Islam yang mampu menjadi para muzakki (pembayar zakat) baru. Melihat kondisi muslim Indonesia mayoritas adalah pekerja, maka lembaga pendidikan memang harus berkontribusi untuk mencetak kader masyarakat menjadi seorang muzakki.

“Islam mengajarkan untuk membayar zakat, bukan mencari zakat. Memberi sedekah bukan mencari sedekah,” ujar pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah KH Marsudi Syuhud, dalam pengajian rutin pagi. Seperti diterapkan dalam pesantren yang dibangun sejak 2011 itu yang bercita-cita untuk mencetak para pengusaha.

Sesuai ajaran Islam, KH. Marsudi Syuhud menyatakan pesantren ingin menyebarkan pesan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Sehingga, para santri didorong agar bisa menjadi generasi pembayar zakat.
 Marsudi menyampaikan, Rasulullah SAW merupakan sosok teladan karena telah mulai berbisnis sejak usia belia. “Saat ini peluang wirausaha masih terbuka lebar. Jadi mari kita dorong untuk bisa berbisnis dan menjadi pembayar zakat,” ujar Kiai.

Standar negara maju, yaitu memiliki wirausahawan sebanyak minimal tujuh persen dari total warga negaranya. Singapura salah satu contoh negara tetangga paling terdekat yang sudah mencapai hal itu. Marsudi mengakui, jumlah wirausahawan di Indonesia baru mencapai 1,6 persen.

Pesantren tersebut pun kini tengah mengembangkan usaha reksa dana yang dinamai House of Brotherhood Fund. Upaya menggalang dana investasi tersebut kini sedang dalam tahap pengurusan berkas dan secepatnya akan diluncurkan. Kiai berharap, upaya tersebut bisa menjadi lapangan nyata untuk para santri karena bisa bertemu dengan professional yang menyuntikkan dana.
 
Dengan visi ekonomi yang mantap bukan berarti santri kehilangan sentuhan pesantren. Kegiatan pesantren pada umumnya tetap menjadi kurikulum dasar.

“Istighotsah dan membaca manaqib seperti ini adalah kekuatan untuk menghubungkan orang,” ujar Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.

Saat ini, jumlah santri di Pesantren Ekonomi Darul Uchwah terbatas hanya sebanyak 200 orang karena keterbatasan ruang asrama. Kiai mengaku, pihaknya kini tengah berupaya mengembangkan pesantren tersebut untuk menampung lebih banyak santri.

Irham/Muhdi

KH. Marsudi SYuhud saat kedatangan tamu dari Malaysia

Pesantren Ekonomi Darul Uchwah gelar Khitanan Massal



pamflet khitanan masal pesantren ekonomi darul uchwah

Pesantren Ekonomi Darul Uchwah akan mengadakan kegiatan sosial Khitanan Masal di area Pesantren yang terletak di Jalan Kedoya raya Masjid Al-Uchwah Kedoya Selatan Kebon Jeruk Jakarta Barat, pada hari Sabtu (28/5/2016) siang. Kegiatan ini sebelumnya diisi pawai ta’aruf yang dihadiri santri MDT (Madrasah Diniyah Ta’miliyah) se Jakarta Barat.

Pesantren yang diasuh oleh KH. Marsudi Syuhud ini sudah beberapa kali mengadakan kegiatan sosial sebagai bukti pengabdian kepada masyarakat. Selain pesantren yang berbasis ekonomi memang lebih mengutamakan kepentingan sosial.

Lurah Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Akhmad Nurul Huda mengatakan kegiatan sosial ini adalah bagian dari rangkaian Haflah Akhirusanah, termasuk Tablig Akbar dan penyambutan bulan suci Romadhon
“Kegiatan sosial ini merupakan rutin gelar setiap akhir pembelajaran tahunan setelah para santri melaksanakan ikhtibar atau ujian pesantren”, Kata Nurul Huda

Nurul Huda juga mengatakan, bahwa Pesantren sebagai pusat belajar agama tidak hanya mengurusi masalah–masalah bab muamalah, tetapi juga hadir secara langsung melalui program– program yang langsung dibutuhkan masyarakat bawah, seperti khitanan massal.

“Masyarakat kerap menghadapi masalah biaya. Padahal, khitan dalam syariat Islam itu penting karena berkaitan dengan kebersihan dalam menjalankan ibadah terutama ibadah shalat,” ujarnya.

Sekretaris Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Amron Zamzami menambahkan Kegiatan sosial ini disinergikan dengan perayaan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah.
Khittan massal ini didukung oleh tim dokter yang profesional. “kita berharap peserta yang mendaftar merupakan dari kalangan yang sangat membutuhkan agar mebantu mereka mengurangi beban biaya”, ujar Ustadz Amron.


(santri darul uchah/muhdi)

Pesantren Pencetak Pengusaha


Pesantren Ekonomi Darul Uchwah
KH. Marsudi Syuhud sedang memberikan tausiyah kepada jamaah
Lantai dasar gedung Pesantren Ekonomi Darul Uchwah yang berlokasi di Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, bergemuruh. Sabtu (4/4) malam sekitar 150 orang jamaah melantunkan zikir, istighotsah, manaqib, dan Maulid Rasulullah SAW. Ketika pembacaan maulid memasuki bagian mahallul qiyam, mereka berdiri serentak sambil melantunkan kalimat "Ya Nabi salam a’laika ya Rasul salam a’laika". Tetabuhan hadrah membuat suasana semakin bersemangat.

Majelis tersebut rutin digelar setiap Sabtu malam pada pekan pertama bulan. Malam itu, tak hanya santri Pesantren Ekonomi yang hadir. Sejumlah pengusaha dari berbagai latar belakang dan sebuah yayasan keilmuan dari Malaysia ikut meramaikan perkumpulan.

Keislaman dan wirausaha pada malam itu terasa lebur menjadi satu. Hal ini sejalan dengan cita-cita pendiri pesantren. Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Marsudi Syuhud mengatakan bahwa pendiri pesantren ingin agar umat Islam memiliki keunggulan ekonomi. Sebab, saat ini mayoritas penduduk miskin di Indonesia ialah kaum Muslim.

Standar negara maju, kata Marsudi, memiliki wirausaha sedikitnya tujuh persen dari total seluruh jumlah penduduk. Singapura, negara jiran kita, sudah memenuhi standar itu. Sedangkan Indonesia, Marsudi menambahkan, jumlah wirausahawan baru mencapai 1,6 persen. "Pesantren ini bercita-cita mencetak pengusaha," ujar Marsudi kepada Republika.

Islam mengajarkan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Artinya, orang yang memberi lebih baik daripada orang yang meminta. Marsudi mengatakan bahwa pesantren ingin membentuk santri berjiwa pembayar zakat dan pemberi sedekah. "Islam mengajarkan untuk membayar zakat bukan mencari zakat. Memberi sedekah bukan mencari sedekah," kata Marsudi.

Rasulullah SAW ialah teladan terbaik dalam urusan bisnis. Rasulullah SAW telah memulai bisnis dagang sejak usia belia. Sehingga sudah seyogianya jika umat Islam mengembangkan diri melalui wirausaha sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Marsudi mengatakan bahwa Pesantren Ekonomi Darul Uchwah tengah mengembangkan usaha reksa dana yang dinamai House of Brotherhood Fund. Upaya menggalang dana investasi tersebut kini sedang dalam tahap pengurusan berkas dan secepatnya akan diluncurkan. Marsudi berharap upaya tersebut bisa menjadi lapangan nyata untuk para santri karena bisa bertemu dengan profesional yang menyuntikkan dana.

Dengan visi ekonomi yang mantap bukan berarti santri kehilangan sentuhan pesantren. Kegiatan pesantren pada umumnya tetap menjadi kurikulum dasar. Majelis zikir dan maulid pun digelar selayaknya tradisi pesantren.

Syarif, salah seorang santri asal Wonosobo, mengaku awalnya sempat keteteran mengikuti pelajaran ilmu ekonomi di pesantren. Syarif yang dulunya merupakan alumnus SMK jurusan mesin tidak terlalu mengetahui ilmu tersebut. Akan tetapi, lama kelamaan ia mulai merasa terbiasa dan menemukan celah untuk mengawinkan dua keahliannya itu.

"Saat ini, ya senang karena bisa kuliah sekaligus jadi santri juga," ujar Syarif yang merupakan mahasiswa di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta. Bahkan, Syarif mendapat beasiswa untuk mengenyam pendidikan perbankan syariah sekaligus mempelajari kitab-kitab dari pesantren yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Pada perkumpulan malam itu pesantren juga mendapat kehormatan menerima kunjungan dari Yayasan Pengurusan Ilmu Malaysia. Direktur Yayasan Umar Azmun menyerahkan sejumlah buku tentang isu-isu muamalah kepada pesantren. Umar berharap pesantren bisa memberi pencerahan tentang tata cara menjalankan aktivitas ekonomi secara Islami. "Ekonomi saat ini banyak menghalalkan riba. Santri-santri saya harap bisa mengkritik betul-betul soal ini," katanya. n c71 ed: m akbar wijaya

Sumber : Republika Koran

Top